Home » , , , , , , , » Kosmetik Spiritual dan Aliran Seremonial

Kosmetik Spiritual dan Aliran Seremonial

Written By @Rahmandani86 on Kamis, 24 November 2016 | 04.24


Sekolah drakula, negara drakula, yang merah drakula, yang kuning drakula, yang hijau drakula, lupa pancasila, oligarki menggila.

Beberapa orang melakukan konfirmasi pertemenan pada akun facebook, dan twitter saya, cukup gencar. Sehari bisa puluhan orang, Paling sedikit lima orang. Biasanya berwajahkan wanita cantik atau nama akun yang agak ke “arab-arab”. Selidik punya selidik ternyata ini akun palsu yang biasa digunakan untuk kepentingan buzzer meraup uang. Baik untuk berdagang atau untuk “alat” kosmetik spiritual.

Di zaman orde baru, kosmetik spiritual lebih cenderung mengedepankan pembangunan-pembangunan rumah ibadah kaum mayoritas. Urusan jemaah kosong atau sepi bukan menjadi bagian urusan politik Orba. Lain lagi pada zaman saat ini, kosmetik spiritual justru menjadi senjata andalan perebutan kekuasaan, oligarki. Sentimen-sentimen golongan dipertunjukan, superioritas jiwa diunggulkan, dan kedunguan menjadi pembenaran.

“Alat” kosmetik spiritual ini banyak jenisnya. Ada yang berbentuk bisnis agama seperti seminar-seminar yang menganggap manusia yang dihadapannya “sakit” jiwa, dan pemateri melakoni sebagai nabi yang membenarkan sendiri apa yang dikatakannya. Ada juga yang berbentuk aliran seremonial. Biasanya, aliran seremonial ini sifatnya dadakan, kagetan, emosional, dan cukup reaktif untuk melakukan pembenaran-pembenaran yang bersifat politik golongan.

Sedihnya lagi, aliran seremonial ini banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok mayoritas dibelahan dunia, termasuk di Indonesia. Negara relijius ini memang menjadi ladang tersubur untuk melakukan kampanye kosmetik spiritual. Dalam kacamata bisnis dan penjualan, kaum mayoritas negara ini menjadi target pasar terbesar untuk bisa terkena virus paling mematikan, superioritas.

Akutnya, jika sudah tertanam dalam pikiran setiap manusia sebagai makhluk superioritas maka perlahan aliran ini akan merajuk untuk mementingkan kulit, penampilan, dan mengedepankan hipokritisme, berwajah dua dan cenderung gila kekuasaan.  

Jelas, semestetinya penyakit oligarki di negeri ini bisa menjadi pelajaran. Tak ada perubahan dalam struktur ekonomi masyarakat, tetap sama. Kemiskinan meningkat, pendidikan mahal, monopoli ekonomi semakin kuat, lapangan kerja minim, perampasan hak tanah petani masih terjadi.

Pertanyaannya, akankah ada perubahan pada struktur masyarakat jika fungsi agama hanya dijadikan aliran seremonial (sempalan) sebagai kosmetiknya? Jangan aneh, jika negeri yang terkenal relijius ini masih merangkak mencari jati diri. Pancasila sebagai pedoman masih saja diperdebatkan. Bayangkan, sila pada pancasila itu ada lima. Tapi masih ada saja yang terjebak pada perdebatan sila pertama. Capek deh....hehehehe  



0 comments:

Posting Komentar

SELAMAT DATANG DI ARENA DIALEKTIKA PENDIDIKAN